[lxvi] Penggrun kapada Harimau atau Penggarang Hati [p. 168.

Charm for fascinating a Tiger or hardening one’s own Heart

Ah Si Gempar ʿAlam

Gegak gempita!

Jarum besi akan ruma-ku,

Jarum tembaga akan ruma-ku,

Ular bisa akan janggut-ku,

Buaya akan tongkat [mulut]77-ku,

Harimau mendram di pengri78-ku,

Gajah mendring bunyi suara-ku,

Suara-ku saperti bunyi halunlintar!

Bibir terkatup, gigi terkunchi!79

Jikalau bergrak bumi dengan langit,

Bergrak-lah80 hati angkau

Handak marah atau handak membinasakan kapada aku!

Dengan berkat la ilaha, d.s.b.

(and add)

Kun paya kun chahia masok ka tuboh-ku!

Siapa chakap melawan aku

Singa pasih81 akan lawan-nya!

Ah, sagala yang bernyawa

Tiada-lah dapat menentang mata-ku,

Aku yang mendapat menentang mata-nya

Dengan berkat la ilaha, d.s.b.

For a Were-Tiger story the reader is referred to Clifford’s In Court and Kampong, pp. 66–77.

The idea is traceable, with a difference, as far back as A.D. 1416: a Chinese account of Malacca (in the Ying-yai Shêng-lan) relates, inter alia—“Sometimes there is a kind of tiger which assumes a human shape, comes to the town, and goes among the people; when it is recognised it is caught and killed.”

The Deer